Use this space to put some text. Update this text in HTML
Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang datang kepada amirul mukminin dan melapor.
dia berkata : ''Wahai amirul mukminin, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku...''.
''Pergilah kau bawa ayahmu kesini ! ''. Perintah amirul mukminin. Pemuda itupun pergi kerumahnya untuk memanggil sang ayah agar menghadap kepada amirul mukminin.
Setelah beberapa saat orang tua ( ayah ) dari si pemuda tesebutpun datang ke tempat amirul mukminin dan langsung menghadap. '' Ada apa wahai amirul mukminin sehingga engkau memanggilku kesini ''. Ucap ayah dari pemuda yang tadi melapor.
Amirul mukminin ( kedepannya di tulis AM ) pun betanya kepadanya: ''Mengapa anakmu mengadukanmu ? Apakah benar kau ingin mengambil uangnya?''.
Orangtua ( kedepannya di tulis Ot ) itupun menjawab: '' Tanyakan saja kepadanya, apakah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa paman atau bibinya, atau keperluan saya sendiri ".
AM pun berkata lagi: ''Sudah lupakanlah hal itu, sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang kau katakan dalam hatimu dan tak pernah terdengar oleh telingamu".
Wajah keriput Ot itu tiba-tiba berubah sedih,lalu dia berkata: " Memang aku pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya ".
AM mendesak: " Katakan aku ingin mendengarnya ! "
Ot itupun mulai menitikkan air mata dan berkata: " Aku sangat ingin mengatakan ini kepada anak ku,' Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu ketika muda. semua hasil jerih payahku kau minum dan kau reguk puas. bia kau sakit,bukan kau yang menderita. lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras, hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tau ajal pasti datang. setelah enkau dewasa dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dngan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. sayang..., kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu, engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah olah kebenaran selalu menempel di sisimu, seakan-akan kesejukan bagi orang - orang yang benar sudah di pasrahkan".
Pada saat itu AM langsung memegang ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: " Engkau dan Hartamu milik ayahmu ! "
dia berkata : ''Wahai amirul mukminin, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku...''.
''Pergilah kau bawa ayahmu kesini ! ''. Perintah amirul mukminin. Pemuda itupun pergi kerumahnya untuk memanggil sang ayah agar menghadap kepada amirul mukminin.
Setelah beberapa saat orang tua ( ayah ) dari si pemuda tesebutpun datang ke tempat amirul mukminin dan langsung menghadap. '' Ada apa wahai amirul mukminin sehingga engkau memanggilku kesini ''. Ucap ayah dari pemuda yang tadi melapor.
Amirul mukminin ( kedepannya di tulis AM ) pun betanya kepadanya: ''Mengapa anakmu mengadukanmu ? Apakah benar kau ingin mengambil uangnya?''.
Orangtua ( kedepannya di tulis Ot ) itupun menjawab: '' Tanyakan saja kepadanya, apakah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa paman atau bibinya, atau keperluan saya sendiri ".
AM pun berkata lagi: ''Sudah lupakanlah hal itu, sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang kau katakan dalam hatimu dan tak pernah terdengar oleh telingamu".
Wajah keriput Ot itu tiba-tiba berubah sedih,lalu dia berkata: " Memang aku pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya ".
AM mendesak: " Katakan aku ingin mendengarnya ! "
Ot itupun mulai menitikkan air mata dan berkata: " Aku sangat ingin mengatakan ini kepada anak ku,' Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu ketika muda. semua hasil jerih payahku kau minum dan kau reguk puas. bia kau sakit,bukan kau yang menderita. lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras, hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tau ajal pasti datang. setelah enkau dewasa dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dngan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. sayang..., kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu, engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah olah kebenaran selalu menempel di sisimu, seakan-akan kesejukan bagi orang - orang yang benar sudah di pasrahkan".
Pada saat itu AM langsung memegang ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: " Engkau dan Hartamu milik ayahmu ! "

0 komentar:
Posting Komentar